Alasan Suami Menceraikan Isteri

“Istriku berselingkuh” merupakan salah satu alasan utama pria mengajukan perceraian. Namun banyak juga istri setia yang digugat cerai oleh sang suami. Apa penyebabnya? Kami menanyakan kepada sejumlah pakar hubungan asmara mengenai alasan-alasan yang menyebabkan suami mengajukan perceraian – jawaban mereka mengejutkan dan mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk membina rumah tangga yang awet.

1. Anda berhenti merawat diri.

Pria memahami bahwa tubuh perempuan akan berubah seiring waktu. Namun ada perbedaan antara “gemukan” dan “jadi gembrot”. Lalu apakah Anda masih ingat kapan terakhir kali waxing atau mencukur bulu yang tak diinginkan?  “Jika Anda tak mau repot-repot tampil cantik bagi suami, ia akan bertanya-tanya apakah Anda masih peduli dengan dirinya,” ujar Sherry Amantenstein, pakar terapi pernikahan dari New York. Tidakkah Anda mengalami hal yang sama jika suami Anda tidak peduli lagi dengan penampilannya? Jadi mulai sekarang buang jauh-jauh celana dalam nenek-nenek, atasi rambut yang lepek berminyak dan hal-hal lainnya yang membuat penampilan Anda tidak menarik — dengan demikian Anda berdua akan merasa jauh lebih baik.

2. Anda selalu mengatakan tidak.
Jika Anda selalu berbicara dengan nada negatif dan merengek seperti anak kecil, “Anda menjadi perusak suasana,” ujar Amatenstein. “Hal ini membuat Anda bukan lagi seseorang yang ia dapat ajak bersenang-senang atau diinginkan keberadaannya.” Meskipun Anda mengatakan hal negatif bagi kebaikan suami Anda, cobalah untuk berkompromi: daripada ngambek karena suami ingin beli motor besar, mungkin Anda bisa mengizinkan jika dia berjanji akan selalu memakai helm, misalnya. Dengarkan keinginan suami Anda dan pernikahan Anda kemungkinan akan jauh dari perceraian.

3. Anda lebih banyak mengomel daripada merawat suami.
“Jika Anda selalu mengomeli suami karena kesalahan kecil atau hal-hal sepele, ia akan merasa jengkel dan pada akhirnya menutup diri,” ujar Corri Fetman, pengacara perceraian asal Chicago. “Jika hal ini sampai terjadi, ia akan kehilangan semangat dan upaya untuk menjaga pernikahan tetap harmonis.” Bicarakan apa yang membuat Anda kesal sehingga suami tidak mengulanginya lagi. Dan jika ia berhasil, jangan lupa untuk memberi “imbalan” berupa memanjakannya secara ekstra.

4. Ia merasa tidak dihormati.
Jangan ikuti tren lelucon yang menghina suami meski itu untuk lucu-lucuan, ujar pakar terapi pernikahan Rosalind Sedacca. Hindari lelucon di Facebook mengenai suami Anda yang seorang penggemar bola basket namun menggiring bola saja tidak bisa – dan juga jangan mengejeknya di depan para sahabatnya. “Suami Anda akan merasa diremehkan,” jelas Sedacca. “Kepercayaan diri suami dan istri adalah pondasi setiap pernikahan,” tambahnya. Pada akhirnya, harga diri suami Anda rusak dan ia akan kehilangan keintimannya dengan Anda. “Sementara mungkin ada perempuan lain yang bersedia memperlakukan suami Anda dengan kekaguman,” ujar Sedacca. Anda tahu akibatnya? Sama sekali tidak bagus!

5. Suami Anda tidak memiliki mentor pernikahan.
Jika teman-teman suami Anda hobi datang ke tempat hiburan dan spa khusus dewasa meski sudah menikah, ia perlu mencari teman-teman baru yang bisa dijadikan panutan, ujar penasihat pernikahan Don Nations. “Jika pria memiliki teman dengan pernikahan yang solid yang dapat ia ajak bicara, jadi penampung curhat, dan menawarkan nasihat, ia memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengajukan perceraian,” jelasnya. Menjalin persahabatan dengan pasangan suami istri yang bahagia mungkin dapat menginspirasi Anda dan pasangan.

6. Anda bukan partner suami dalam hal keuangan.
Jika Anda berdua tidak memiliki kesepakatan mengenai apa yang harus dilakukan dengan anggaran rumah tangga, hal ini dapat menyebabkan krisis pernikahan, ujar Amatenstein, “ini karena berbagai perilaku yang dipicu oleh hal tersebut,  seperti persaingan memperoleh kendali atas rumah tangga dan merahasiakan pembelian barang mahal.” Jalan keluarnya? Duduklah bersama dengan pasangan dan buat daftar impian yang Anda setujui bersama, baik itu rencana untuk pensiun dini, biaya sekolah anak, atau tujuan wisata idaman, sehingga Anda berusaha mencapai tujuan yang sama. Jika Anda bedua tidak dapat mencapai kata sepakat, silakan berkonsultasi dengan penasihat keuangan.

7. Anda tidak memberikan kesempatan kepada suami untuk merasa seperti “Superman”.
“Pria akan tetap mempertahankan pernikahannya selama mereka merasa masih menjadi pelindung bagi pasangannya,” ujar Tracy Thomas, Ph.D, pakar psikologi sekaligus konsultan rumah tangga. Berikanlah pujian bagi suami jika ada kesempatan. Berikan pujian yang spesifik, katakan kepadanya, “Waktu kamu meneleponku tadi siang, aku senang sekali mendengar suaramu,” atau berkata, “Terima kasih, ya. Kamu memang serba bisa,” setelah ia membetulkan genteng bocor. Memberikan pujian bagi setiap tindakan suami Anda yang heroik dapat membantu Anda melalui momen-momen sulit dalam pernikahan.

8. Anda tidak sepakat mengenai cara membesarkan anak.
Mungkin suami Anda berhati lembut yang memanjakan anak-anak  dengan membelikan apa yang mereka inginkan, sementara Anda merasa khawatir mereka tidak akan pernah belajar menghargai uang. Suami mungkin merasa anak-anak melakukan aktivitasnya harus sesuai dengan jadwal, sementara Anda lebih menyukai anak-anak dibiarkan bebas. “Anda harus berupaya sebisa mungkin untuk mencapai kesepakatan, sehingga Anda tidak saling membenci satu sama lain,” ujar Amatenstein. Buat peraturan bersama mengenai jam tidur anak, pekerjaan rumah dan hukuman bagi pelanggaran yang dilakukan anak-anak Anda. Dan sebelum Anda menentang pandangan suami, coba ingat kembali latar belakang ia berasal (mungkin ia dibesarkan di lingkungan yang tidak aman, sehingga ia terpaksa harus berada di dalam rumah setelah gelap supaya tetap aman). Sesekali turutilah perkataannya, asalkan cara tersebut tidak menyakiti siapa pun – “ia akan merasa opini dan perasaannya berarti bagi Anda,” ujar Amatenstein. Dan itu merupakan hal yang amat penting bagi setiap hubungan asmara.

9. Ia merasa diabaikan.
Kehidupan membawa Anda ke arah yang berbeda-beda. Namun “memfokuskan semua waktu dan energi Anda untuk anak dan karier, dan sama sekali bukan untuk suami, dapat mengebiri dirinya dan membuatnya merasa seperti ‘barang bekas’,” ujar Fetman. Luangkanlah waktu sejenak setiap harinya untuk mengobrol, mendengarkannya, berbicara dan tertawa, hanya bersamanya, tanpa anak-anak. Kapan waktu yang terbaik untuk melakukan hal itu? “Ketika suami Anda punya kemungkinan lebih terbuka, baik ketika sedang bersantai di sofa maupun saat sedang di tempat tidur sebelum terlelap,” ujar Fetman. “Cobalah untuk mengobrol tentang beragam hal yang tidak ada hubungannya dengan anak-anak, jadwal, atau apa pun yang membuat stres. Buat menjadi menyenangkan.”

10. Drama keluarga dengan anak tiri.
Jika suami Anda sudah memiliki anak dari istri terdahulu dan anak tersebut tidak menyukai Anda, pernikahan Anda bisa jadi dalam bahaya. “Suami Anda mungkin merasa harus melindungi anaknya – lagi pula, suami istri mungkin dapat menjadi mantan namun anak selamanya tetap anak,” ujar Amatenstein. Jelaskan kepada suami  bahwa Anda ingin menjadi bagian dari hidup anak tersebut, dan apa pun yang terjadi, Anda tahu suami mencintai anaknya dan perlu menjalin hubungan dengannya. Jangan coba untuk menggantikan posisi ibu kandungnya – dan jangan pernah menjelek-jelekkan ibunya di hadapannya. Minta suami untuk membantu membuat citra Anda yang baik kepada anak tersebut. Lambat laun, anak tersebut akan memandang Anda sebagai seseorang yang perlu dikenali, dihormati dan mungkin pada akhirnya dicintai. (ab/pt)